dalam doaku

more than just a moment
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu..

|| Sapardi Djoko Damono dalam “Hujan Bulan Juni” ||

cepatlah terlelap sayang
agar sepertiga malammu tak kesiangan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Aku yang tak pernah berha…

Aku yang tak pernah berharap mencintaimu,tetapi ALLAH yang telah menundukan Hatiku tuk memberikan cinta ini padamu.

Aku yang tak pernah memilihmu untukku,tetapi ALLAH telah memilihkanmu untukku.

Aku yang tak pernah bermimpi untuk mendampingimu,tetapi ALLAH lah yang telah menentukan hidupku tuk mendampingimu.

Aku juga tak berharap menanggung Rasa ini atas cintaku padamu,tetapi ALLAH telah memberikan Rasa ini dan harus ku tanggung atasmu.

Itu lah…aku adanya,Aku yang tak pernah kuasa mampu mengatur Hatiku sendiri,Karena sang PEMILIK ku yang telah menentukannya….

Aku..yang hanya kau lihat sebuah Raga,sedangkan Hatiku sepenuhnya adalah Milik-Nya

1 Komentar

Oktober 1, 2012 · 11:07 pm

tak perlu dipaksa, tak pe…

tak perlu dipaksa, tak perlu dicari, karena kuyakin ada jawabnya. andai ku bisa merubah semua hingga tiada orang terluka, tapi tak mungkin ku tak berdaya, hanya yakin menunggu jawab-Nya

*bukan quote mellow loh ya, tapi quote optimis

Tinggalkan komentar

Juli 22, 2012 · 8:04 am

Ikhlaskan saja….

Pernahkah merasa kecewa dan sedih saat harus melepaskan sesuatu yang sangat kita harapkan? Saat kita sudah berikhtiar dan bersabar, kemudian Allah membuka sedikit pintu harapan, namun ternyata Allah menutup kembali pintu itu. Padahal harapan itu bukan hanya pertimbangan dunia saja, melainkan pertimbangan akhirat. Pernahkah? Ya, saya pernah, jatuh dan terluka. Wajar, karena kita manusia. Maka berbahagialah, Allah masih menganugrahkan rasa sakit itu, agar kita bersabar, agar kita menyadari hakikat ikhtiar dan tawakkal, agar kita menyadari hakikat ‘iman kepada qada & qadar’, agar kita merasa butuh untuk lebih mendekat kepada Allah.

Duh, kayaknya kalau udah kayak gitu semua lagu-lagu broken heart compatible bangat sama kondisi hati kita ya? Bahkan hanya dengar intro atau reff-nya saja bisa bikin air mata menetes. Trus mau gimana? Ngambek, menutup diri, pesimis? Ah, ekspresi kekecewaan itu hanya layak disandingkan dengan tingkah anak kecil yang kecewa karena permintaaanya tak dituruti orang tuanya.

Sungguh pengalaman merupakan guru terbaik. Saya bersyukur penah mengalami kondisi demikian. Setidaknya saya bisa berlatih mengolola hati supaya tidak terjerembab dalam lubang kekecewaan yang lebih dalam. So, what must we do?

Pertama, luapkanlah. Menangislah, itu bisa membuatmu lega. berbagilah pada sahabat, orang tua atau seseorang yang kamu percaya. Namun perlu diperhatikan, siapa yang kamu ajak bicara dan tidak setiap hal dapat kamu ceritakan. Bijaklah untuk mengungkap rahasia hatimu pada orang lain. kalau mau lebih aman, nyaman dan tentram, curhat saja pada Allah, Sang Pemilik hati. Menangislah dalam dalam sujud-sujud malammu, dalam tilawahmu, dalam doa-doamu. Really, itu melegakan banget.

Kedua, segera sugesti diri kita untuk segera bangkit. Saat awal saya menyadari terluka, saya berpikir luka saya akan sulit sembuh dan pasti akan lama membekas.Namun bukankah itu salah satu bentuk sugesti yang justru akan membuat kita semakin lama terjebak dalam rasa sakit? beberapa orang mengatakan untuk segera bangkit harus melupakan pengalaman pahit. Saya pikir semakin kita berusaha melupakan semakin kita berusaha mengingat. Jadi, jangan berniat melupakan, namun yakinkan diri bahwa pintu-pintu kebahagiaan lain akan segera terbuka. Tentu jika kita optimis dan berikhtiar.

Ketiga,segera sibukkkanlah diri kita dalam hal-hal yang bermanfaat. Tenggelamkanlah diri kita dalam aktivitas atau rutinitas yang bermanfaat entah pekerjaan, tugas kuliah atau kegiatan komunitas yang dapat membuat anda untuk segera bangkit dan optimis. Carilah komunitas atau lingkungan yang dengan segera dapat “menyembuhkan luka anda”, tanpa membuat mereka tersadar bahwa anda sedang terluka. Siapa komunitas itu? Tentu saja komunitas kebaikan, agar aktivitas kita juga membawa kemanfaatan bukan kesia-siaan.

Keempat, evaluasi diri. Ini sangat-sangat penting. Bisa jadi Allah tidak membukakan pintu kebahagiaan itu karena menurut Allah kita belum pantas untuk menerimanya. Evaluasilah setiap aspek dalam kehidupan kita. Bagaimana hubungan kita dengan Allah? bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia? Maka jadilah insan yang senantiasa memantaskan diri untuk mendapatkan yang terbaik dari Allah.

Kelima, tetap syukuri apapun kepahitan yang kita rasakan. Teringat sebuah surat yang sangat indah, Ar-Rahman. Allah berfirman “fabiayyiaalaaaaa irobbbikuumaa tukadzibaan”, Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. Almostly, setiap manusia pasti diberikan cobaan tidak lain untuk menguji keimanan kita. Rasulullah Saw, manusia yang begitu mulia saja, tetap mendapatkan ujian. Masih ingat kisah fitnah yang menimpa wanita mulia ‘Aisyah r.a? Musibah fitnah ini terjadi tatkala suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan. Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan menyusul rombongan Rasullullah Saw dan para shahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah. Peristiwa fitnah terjadi tatkala ada hasutan dari golongan Yahudi dan munafik bahwa telah ‘terjadi apa-apa’ antara ‘Aisyah dan sahabat Shafwan. Meski teriris hatinya, Rasulullah Saw tetap tenang dan memilih mengadu kepada Rabb-nya, meminta pendapat dan nasihat dari sahabat-sahabat yang terpercaya. Hingga akhirnya turun Surat An-Nuur ayat 26. Nah seorang Rasul yang telah mendapatkan jaminan surga saja tetap mendapatkan ujian dan bersabar atas ujian itu. Bagaimana dengan kita, yang bau surga saja belum tentu bisa menciumnya? So, tetap sabar dan syukur. Allah menguji kita karena Dia mencintai makhluk-Nya yang tetap bersabar dan bersyukur dalam kondisi apapun.

Keenam, tetap optimis dan tetap iktiar. Bukalah hati untuk pintu-pintu kebahagiaan lainnya. seringkali kita meratapi satu pintu yang tertutup sehingga tidak menyadari pintu lain yang terbuka. Bisa jadi Allah belum membukakan satu pintu kebahagiaan , namun akan segera membukakan pintu kebahagiaan bagi hal yang lain. Keoptimisan bukan hanya diwujudkan melalui rasa, namun juga tindakan. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti berikhtiar. Berikan usaha terbaik kita untuk menjemput setiap asa yang kita harapkan.

Keenam, dan yang paling penting. Selalu mendekatlah pada Allah, Sang Pemilik kehidupan. Perketat ibadah wajib dan perbanyak ibadah sunnah. Cobalah untuk lebih menghayati dan menyelami, bukan hanya melaksanakan. Cobalah menjalin hubungan yang lebih mesra kepada Allah. Teringat sebuah hadist “Siapa mendekat kepada KU (Allah) sejengkal, maka aku akan mendekatinya satu hasta, Siapa yang mendekat kepada KU (Allah) satu hasta, maka aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan siapa yang mendekat kepada KU (Allah) dengan berjalan kaki, maka aku akan mendekatinya dengan berlari-lari kecil” (HR Muslim).

Disinilah kita dapat merasakan bagaimana hidup dibawah naungan Islam. Dimana dalam setiap episode kehidupan Allah memerintahkan kita untuk berdiri di tengah-tengah antara raja’ (berharap pada Allah) dan khauf (takut kepada Allah). So, jangan pernah merasa takut terluka selama kita bergantung pada Allah, sebaik-baik pelindung dan penolong. Kalaupun ada episode “biru” yang hinggap kembali dalam kehidupan kita, biarlah ia menjadi kembang-kembang kehidupan. be optimistic n keep moving on 🙂

Kayen, 1 Ramadhan 1433 Hijriyah

 

Tinggalkan komentar

Filed under bianglala, hikmah

Kesetaraan & Keadilan Gender dalam Peraturan Perundang-undangan Transportasi Publik Darat di Indonesia

Gambar

Tingkat kejahatan dengan kekerasan semakin meningkat setiap tahunnya dengan dampak yang serius bagi korbannya baik laki-laki maupun perempuan. Tindak kekerasan dapat menimpa siapapun. Namun jika ditelusuri lebih lanjut tindak kekerasan sering menimpa perempuan baik dalam bentuk kekerasan seksual, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan, maupun kekerasan dalam rumah tangga.
Kekerasan tersebut dipahami sebagai kekerasan berbasis gender atau gender based violence yang mengacu pada posisi subordinasi perempuan karena relasi keduanya mencerminkan powerless dan powerful, dengan kata lain terdapat ketimpangan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki . Alison Morris mencatat bahwa kejahatan terhadap perempuan mempunyai karakteristik tertentu, yakni :
1. Kebanyakan perempuan menjadi korban kejahatan/tindak kekerasan oleh laki-laki;
2. Perempuan lebih memungkinkan mengetahui siapa yang menyerang atau pelaku kejahatan atas diri mereka daripada laki-laki;
3. Perempuan lebih dimungkinkan untuk diserang di dalam rumah mereka daripada laki-laki;
4. Perempuan lebih memungkinkan mengalami rasa bersalah atas viktimisasi daripada laki-laki.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perempuan sangat rentan dan potensial mengalami kekerasan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki baik di ranah public maupun domestic. Stereotip yang dilekatkan terhadap perempuan sebagai individu yang lemah dan inferior diadopsi oleh mereka sehingga perempuan sering menyalahkan diri sendiri pada saat terjadi viktimisasi.
Pada masa antara Maret 2010-Maret 2011 Komnas Perempuan menemukan sebanyak 4 persen atau 3.753 kasus dari total kasus kekerasan terhadap perempuan (105.103) adalah kasus kekerasan seksual . Kasus kekerasan seksual yang didokumentasikan berupa kasus perkosaan, eksploitasi seksual, pelecehan seksual, kontrol seksual. Ini artinya setiap hari setidaknya ada 10 perempuan yang mengalami kekerasan seksual (Catatan Tahunan Komnas Perempuan Maret 2011). Kasus kekerasan seksual yang dicatat dalam Catahu 2010 sebanyak 2903 terjadi di ranah personal (dilakukan oleh orang-orang terdekat) dan sebanyak 1781 terjadi di ranah publik (tempat kerja, transportasi umum dan ruang public lainnya). Itu artinya sepertiga dari jumlah kekerasan seksual terhadap perempuan terjadi di ruang publik.
Salah satu ruang publik yang sangat rentan terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan adalah sarana transportasi public seperti kereta, bis kota maupun angkutan umum lainnya. Pada tahun 2011 di Jakarta tercatat ada 3 kasus pemerkosaan dan pemerkosaan disertai pembunuhan yang terjadi di trasnportasi umum. Kasus pertama terjadi pada tanggal 16 Agustus 2011, seorang mahasiswa diperkosa dan dibunuh di dalam sebiah mikrolet . Kasus kedua terjadi pada tanggal 1 September 2011 menimpa seorang karyawati yang diperkosa di sebuah angkutan umum . Kasus ketiga terjadi pada tanggal 14 Desember 2011, seorang ibu rumah tangga yang akan berangkat ke pasar dini hari diperkosa di angkutan umum . Pada awal tahun 2012, seorang mahasiwa diperkosa oleh lima orang saat menunggu angkutan umum di kawasan Jakarta. Kekerasan terhadap perempuan di moda tranportasi umum tidak hanya berupa pemerkosaan, melainkan juga pelecehan seksual, pencurian dan perampokan. Berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di sarana transportasi public menunjukkan buruknya layanan trasnportasi public di Indonesia. Hal tersebut memunculkan pertanyaan dimanakah peran pemerintah sebagai penanggungjawab utama layanan publik..
Hak untuk mendapatkan pelayanan yang responsive gender merupakan salah satu bagian dari hak sosial. Berbagai instrument hukum internasional telah memberikan jaminan hak untuk mendapatkan jaminan atas hak transportasi yang layak. The Universal Declaration of Human Rights (DUHAM) 1948 telah menjamin hak setiap orang atas penghidupan, kemerdekaan dan keselamatan. Ketentuan dalam DUHAM tersebut kemudian diperjelas dalam International Convenant on Economic, Social and Cultural Rights 1966, yang menyebutkan dalam Pasal 3 bahwa Negara Pihak pada Kovenan berjanji untuk menjamin hak yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk menikmati semua hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang tercantum dalam Kovenan tersebut.
Secara khusus perlindungan hak-hak perempuan dijamin dalam Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). CEDAW bertujuan untuk menghapus diskriminasi terhadap wanita dengan segala macam bentuk manifestasinya. Pasal 2 CEDAW menjamin bahwa Negara-negara peserta bersepakat untuk menjalankan dengan segala cara yang tepat dan tanpa ditunda-tunda untuk mengambil kebijakan penghapusan diskriminasi terhadap wanita. Beberapa hal yang termuat dalam kebijakan-kebijakan tersebut antara lain mencamtumkan aasas persamaan dalam peraturan peundang-undangannya, membuat peraturan perundang-undangan mengenai larangan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita beserta sanksinya, mengubah atau menghapus perundang-undangan maupun kebiasaan-kebiasaan yang diskriminatif terhadap wanita serta menegakkan perlindungan hukum terhadap hak-hak wanita.
Indonesia telah meratifikasi CEDAW melalui Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Selain itu, Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional yang menginstruksilan kepada seluruh pejabat terkait untuk melaksanakan pengarusutamaan gender guna terselenggaranya perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan,dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan nasional yang berperspektif gender sesuai dengan bidang tugas dan fungsi, serta kewenangan masing-masing dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian Pemerintah Indonesia mempunyai kewajiban untuk mengupayakan pengarusutamaan gender dalam pengambilan kebijakan-kebijakan terutama dalam pembuatan peraturan perundang-undangan. Pembangunan politik hukum yang mengarusutamakan gender diperlukan untuk menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap wanita, termasuk di sarana transportasi umum. Pembangunan perlu dirancang secara egaliter dan memberi manfaat yang sama baiknya antar ras, suku, agama, kelompok sosial, kelompok ekonomi dan melibatkan serta memberi manfaat yang setara bagi laki-laki dan perempuan .Mansour Fakih mengetakan bahwa pembangunan yang tidak mempertimbangkan masalah gender akan mengakibatkan keterbelakangan perempuan .
Dalam hal ini peneliti menyoroti perundang-undangan di bidang transportasi publik sebagai payung hukum penyediaan sarana trasnportasi yang berperspektif gender. Dengan adanya peraturan perundang-undangan yang mengarusutamaan gender diharapkan dapat meminimalisir tindakan kekerasan baik terhadap wanita maupun laki-laki di sarana trasnportasi publik. Ada beberapa perundang-undangan yang mengatur mengenai transportasi publik yaitu Undang-Undang Nomor 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian, Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Oleh karena itu diperlukan peraturan perundang-undangan dalam bidang trasnportasi publik yang berperspektif gender (mengarusutamakan gender) sebagai tanggung jawab negara untuk menghapus segala macam bentuk diskriminasi terhadap wanita.

*sebagian dari latar belakang riset saya

Tinggalkan komentar

Filed under law studies

hanbook, korean traditional clothing

Baju tradisional merupakan symbol kebudayaan suatu daerah atau negara. Hanbok, baju tradisional korea yang digunakan saat ini memiliki corak bernuansa confusian warisan dari dinasti Joseon (1392 -1910). Keindahan hanbok terletak pada harmoni dari warna yang tegas dan garis sederhana. Hanbok wanita terdiri dari rok panjang dan jaket, Hanbok Wanita ini disebut chima-jeogori. Dalam bahasa korea, chima berarti rok dan jeogori berarti jaket. Bagian – bagian dari hanbok adalah:

Jeogori
Jeogori merupakan bagian atas dari hanbok. Jeogori untuk pria lebih besar dan simple. Sedangkan jeogori untuk wanita lebih pendek dan memiliki garis tepi sebagai hiasan.
Dongjeong
Adalah kerah putih yang terdapat disepanjang garis leher. Kerah tersebut membuat potongan kerah secara keselirihan menjadi lebih kontras dan harmonis
Otgoreum
Adalah ornamen yang tergantung vertikal pada bagian depan chima
Baerae
Adalah garis terbawah dari lengan jeogori atau magoja (jaket luar). Dengan bentuk garis melingkar yang membentuk kurva, seripa dengan garis yang terdapat pada bagian atap rumah tradisional Korea.
Chima
Adalah bagian luar rok wanita. Ada beberapa bentuk chima: single-layered, double-layered, dan quilted. Pul-chima adalah chima dengan potongan punggung terpisah, sedangkan tong-chima memiliki kelim/pelipit pada bagian punggungnya.
Pola
Pola tradisional hanbok memiliki kombinasi garis anggun dan warna yang menampilkan keindahan dari hanbok tersebut. Bentuk pola hewan, tumbuhan, dan pola alam lainnya ditambahkan pada pinggiran rok, maupun pada bagian luar dari kerah disekitar bahu.
Beoseon
Adalah sepasang kaos kaki. Bentuk dari beoseon sebenarnya
tidak merefleksikan perbedan gender penggunanya, baik pria maupun wanita. Hanya saja beoseon pria memiliki pelipit lurus.

*finally, beruntung saya bisa mencobanya 🙂 Gambar

Tinggalkan komentar

Filed under bianglala, Uncategorized

Sebuah catatan tentang kesetaraan gender di jaman dulu

Gambar

Kekaguman saya terhadap perempuan jaman dulu bermula dari kekaguman saya terhadap rumah tangga kakek dan nenek saya. Kakek saya seorang guru madrasah, sedangkan nenek saya seorang pedagang. Awal mula nenek hanya berdagang di pasar, sampai pada akhirnya beliau mempunyai toko sendiri, dan berkembang semakin besar. Perkembangan usaha yang semakin besar membuat nenek lebih banyak meluangkan waktunya untuk urusan dagang.

Keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi sebelas orang putra-putrinya merupakan semangat bagi nenek untuk tetap aktif dan mengembangkan usaha perdagangannya, bahkan hingga usia beliau mencapai 70-an. Begitu juga kakek sangat mendukung aktivitas nenek.

Ada dua hal yang saya kagumi dari kehidupan beliau berdua. Pertama, pembagian peran dalam rumah tangga yang tidak jamak terjadi dijaman itu. Porsi fungsi pendidikan (termasuk pendidikan agama) putra-putri lebih banyak diserahkan kepada kakek saya. Pendidikan kakek yang keras pada akhirnya membentuk karakter disiplin dan semangat menuntut ilmu. Meskipun demikian, nenek tak kehilangan perannya sebagai madrasah pertama dalam pembentukan karakter putra-putrinya lewat semangat entrepreneurship dan kerja keras. Sudah menjadi hal yang biasa bagi ibu saya dan saudara-saudaranya bersepeda belasan hingga puluhan kilo untuk “kulakan” (membeli barang dagangan) atau mengantarakan pesanan barang bagi pelanggan yang tinggal di pelosok desa. Pembagian kerja tersebut juga melibatkan putra-putri beliau dimana anak perempuan yang besar ditugaskan untuk memasak, menjahit dan mendampingi belajar adik-adiknya. Sedangkan anak laki-laki bertugas membersihkan rumah. Tak ada masalah, tak ada complain, semua berlangsung dengan lancar.

Kedua, saling menghargai dan menghormati peran dan tugas masing-masing. Saya yakin orang sejaman dengan kakek-nenek masih sangat jarang yang memahami konsep aktualisasi diri, kesetaraan gender maupun emansipasi. Namun faktanya kehidupan mereka mencerminkan ketiga hal tersebut.

Mungkin sejarah hidup kakek-nenek saya juga terjadi pada kehidupan orang tua atau kakek-nenek anda. Terkadang kita sering menjadikan ajaran-ajaran orang tua jaman dulu sebagai kambing hitam terjadinya ‘ketidaksetaraan gender’. Namun kita lupa bahwa kehidupan dan keberhasilan mereka justru menunjukkan penghormatan terhadap kesetaraan gender yang sesungguhnya.

Tinggalkan komentar

Filed under bianglala, law studies